JatimHub – Harapan warga Pulau Bawean untuk belanja murah di program pasar murah pupus sudah. Alih-alih mendapat harga yang lebih ramah kantong, warga justru menemukan harga sembako yang nyaris sama dengan pasar lokal.

Multazam, tokoh muda Bawean yang dikenal vokal, tidak bisa menutupi kekecewaannya. Menurutnya, program ini gagal menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Pasar murah idealnya menawarkan harga yang jauh lebih rendah daripada harga pasar. Namun fakta di lapangan, masyarakat justru mendapati harga sembako hampir sama dengan harga di toko-toko atau pasar tradisional Bawean. Situasi ini menimbulkan kekecewaan mendalam. Jika seperti ini, apa bedanya dengan pasar biasa?” tegasnya.
Banyak warga yang datang dengan ekspektasi tinggi: bisa belanja beras, minyak goreng, dan gula dengan harga lebih murah. Sayangnya, realitas tidak sesuai harapan. Beberapa warga bahkan menilai harga di pasar murah tidak ada bedanya dengan kios sekitar.
“Seharusnya pasar murah menjadi angin segar di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Tapi kalau harganya sama, kami hanya merasa tertipu ekspektasi. Kami datang jauh-jauh, tapi pulang dengan tangan kosong,” keluh salah satu warga.
Multazam menilai kelemahan utama ada di perencanaan. Pasar murah, katanya, bukan sekadar distribusi barang tapi soal kebijakan harga yang berpihak ke rakyat.
“Kalau pemerintah serius, mestinya ada mekanisme subsidi yang jelas. Misalnya, beras yang biasanya dijual Rp15.000 per kilogram bisa ditekan menjadi Rp12.000 atau bahkan Rp10.000. Itulah yang disebut pasar murah, bukan sekadar rebranding pasar biasa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pasar murah tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial untuk pencitraan.
“Program seperti ini rawan dijadikan pencitraan, padahal rakyat tidak mendapatkan manfaat apapun. Jika tidak ada keberpihakan nyata, maka masyarakat hanya akan menjadi penonton dari sebuah pertunjukan seremonial,” katanya.
Meski kritis, Multazam tetap memberi masukan konstruktif. Ia mendorong pemerintah Gresik untuk benar-benar mengevaluasi. Harga harus ditekan, stok cukup, dan distribusi merata. Tanpa itu semua, menurutnya, tujuan pasar murah mustahil tercapai.
Sementara itu, masyarakat Bawean berharap pasar murah bisa menjawab tantangan geografis pulau yang membuat harga kebutuhan pokok cenderung lebih mahal.
“Kalau sama saja dengan harga lokal, lebih baik pemerintah menyalurkan bantuan langsung daripada membuat program yang tidak berdampak,” kata warga dari Kecamatan Tambak.
Multazam menutup pernyataannya dengan lugas:
“Pasar murah harus kembali pada esensinya: memberi keringanan bagi masyarakat. Tanpa itu, lebih baik program ini dihentikan daripada terus menguras anggaran tanpa manfaat nyata.”