JatimHub – Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur mencatat bahwa pada tahun 2025, komoditas wijen masih menunjukkan potensi kuat sebagai salah satu tanaman perkebunan bernilai ekonomi tinggi. Meskipun menghadapi tantangan musim kemarau basah, total luasan lahan wijen di Jawa Timur tetap mencapai lebih dari 200 hektare.
Prasojo, Kepala Bidang Tanaman Semusim Dinas Perkebunan (Disbun) Jawa Timur, menjelaskan bahwa permintaan pasar terhadap wijen terus meningkat karena banyak dibutuhkan sebagai bahan baku industri makanan. Kondisi ini membuat komoditas wijen tetap diminati petani, meskipun cuaca tidak sepenuhnya mendukung pada musim tanam tahun ini.
Menurut Prasojo, musim kemarau basah yang terjadi tahun ini berdampak pada penurunan luas tanam wijen secara keseluruhan di beberapa kabupaten sentra. Meski demikian, petani tetap memilih menanam wijen karena nilai ekonominya dinilai stabil dan biaya usahataninya relatif ringan.
“Tanaman wijen masih menguntungkan bagi petani. Perawatannya mudah, biaya budidayanya tidak besar, dan permintaan pasar terus ada,” ujar Prasojo, Jumat, (28/11/2025).
Saat ini, persebaran tanaman wijen di Jawa Timur terkonsentrasi di empat kabupaten, yaitu Nganjuk, Lamongan, Sampang, dan Bangkalan. Dari empat wilayah tersebut, Kabupaten Nganjuk menjadi penyumbang terbesar dengan luas lahan mencapai 167 hektare.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Bangkalan dengan luas 32,5 hektare, sementara sisanya tersebar di Kabupaten Lamongan 10 hektare dan Kabupaten Sampang 14 hektare.
Salah satu penyebab berkurangnya luas tanam tahun ini adalah lahan rawa di Kabupaten Lamongan yang biasanya menjadi lokasi budidaya wijen saat musim kemarau. Kondisi kemarau basah menyebabkan lahan tersebut tergenang air sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk penanaman wijen.
“Di Lamongan, lahan rawa yang biasanya bisa ditanami saat kemarau justru terendam. Ini mempengaruhi total luas tanam wijen di Jawa Timur,” jelas Prasojo.
Prasojo optimistis bahwa luas tanam wijen di Jawa Timur akan kembali meningkat pada tahun mendatang, seiring dengan perkiraan musim kemarau yang akan berlangsung normal.
“Jika cuaca kembali stabil, aktivitas tanam di lahan rawa dan lahan kering dapat pulih seperti biasa. Kami perkirakan luas tanam wijen tahun depan akan meningkat signifikan,” katanya.
Disbun Jatim berkomitmen terus mendorong pengembangan komoditas wijen melalui peningkatan kapasitas petani, pendampingan teknis, serta dukungan sarana dan prasarana agar komoditas ini dapat memberikan nilai ekonomi optimal bagi petani di daerah sentra.